Tautan-tautan Akses

Pemerintah Indonesia Nyatakan Perang terhadap Narkoba


Kapolri didampingi oleh Kepala BNN Komjen Budi Waseso di kantor Presiden, Jakarta (Andylala)

Kapolri didampingi oleh Kepala BNN Komjen Budi Waseso di kantor Presiden, Jakarta (Andylala)

Aktivitas peredaran narkoba di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya, sehingga Kepolisian dan BNN serta kementerian dan lembaga-lembaga terkait meningkatan upaya pencegahan dan penegakan hukum.

Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Badrodin Haiti memerintahkan jajarannya melakukan operasi di semua pintu masuk narkoba. Untuk itu, Kapolri menegaskan perlu ada upaya maksimal dalam perang terhadap narkoba mulai dari pencegahan hingga penegakan hukum serta upaya rehabilitasi. Kapolri juga menekankan pengawasan peredaran narkoba di lembaga pemasyarakatan dan tempat hiburan, harus dilakukan secara ketat.

“Pencegahan ini harus tetap dilakukan termasuk oleh kementerian lembaga untuk bisa secara internal melakukan pengawasan secara rutin. Seperti melakukan tes urine. Kedua, melakukan penegakan hukum secara tegas. Ancaman hukuman harus maksimal. Bagi pengedar bisa di miskinkan. Operasi ini juga harus memberikan dampak. Untuk itu operasi ini dikemas dalam bentuk satgas gabungan. Mulai dari Badan Narkotika Nasional (BNN), Polri, TNI, Bea Cukai dan unsur-unsur terkait lainnya,” jelas Kapolri.

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menjelaskan ada peningkatan kejahatan narkoba sebesar 13,6% setiap tahunnya.

“Sebagai gambaran, tahun 2015, itu ada 50.178 tersangka yang ditangkap. Kasusnya ada 40.253. ini yang kita tangani, ditambah lagi dengan yang di BNN sebanyak 665 kasus. Ini cukup besar, sehingga sebagian besar lembaga pemasyarakatan kita itu separuhnya lebih itu tahanan kasus narkoba. Oleh karena itu ini sudah kategori membahayakan,” ujar Kapolri.

Kapolri menambahkan, jumlah barang bukti yang disita kepolisian selama tahun 2015 untuk ganja 23,2 ton, ekstasi 1.720.328 butir, sabu 2,3 ton, sisanya adalah heroin, kokain dan hasis. Barang bukti yang disita ini menurut Kapolri baru sekitar 20% dari narkoba yang beredar di pasaran.

Sementara itu, Kepala BNN Komisaris Jenderal Polisi Budi Waseso menambahkan, BNN tengah mengupayakan penambahan anjing pelacak narkoba (pasukan K9). BNN tambah Budi, menjalin kerjasama dengan negara Belanda dan Jerman untuk pengadaan anjing terlatih khusus narkoba.

“BNN membutuhkan 50 ekor anjing. Dari 112 yang ditawarkan dan diseleksi, itu hanya 9 ekor. Harapan kita bisa 50 ekor. Ini nanti kita latih dan didik, termasuk pawangnya. 1 ekor anjing di dampingi oleh 2 orang pawang. Sementara ini ada 2 negara yang bisa melatih dan menyiapkan khusus untuk masalah narkotika. 1 dari negara Belanda dan 1 lagi dari negara Jerman,” ujar Budi Waseso.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas khusus penanganan masalah narkoba di Kantor Presiden Jakarta Rabu (25/2) memerintahkan seluruh aparat keamanan termasuk kementerian dan lembaga untuk lebih meningkatkan perang terhadap narkoba.

“Saya ingin langkah-langkah pemberantasan narkoba lebih gencar, lebih berani, lebih gila lagi. Komprehensif dan terpadu,” demikian pernyataan Presiden.

Presiden juga menginstruksikan agar BNN rutin melakukan inspeksi mendadak di lembaga pemasyarakatan (lapas). Peredaran dan penyalahgunaan narkoba di dalam lapas menurut Presiden, ditengarai sama besarnya dengan aktivitas di luar lapas. [ww]

XS
SM
MD
LG