Tautan-tautan Akses

Jelang 2014, AJI Minta Jurnalis dan Masyarakat Lebih Kritis

  • Nurhadi Sucahyo

Gubernur Jawa Tengah Sri Sultan Hamengkubuwono X bersiap menjadi presenter VOA Siaran Bahasa Indonesia dalam Festival Media 2013 di Yogyakarta. (VOA/Nurhadi Sucahyo)

Gubernur Jawa Tengah Sri Sultan Hamengkubuwono X bersiap menjadi presenter VOA Siaran Bahasa Indonesia dalam Festival Media 2013 di Yogyakarta. (VOA/Nurhadi Sucahyo)

Jurnalis diminta memberikan panduan yang lebih benar dan lebih jujur kepada publik, sementara masyarakat sebagai konsumen media juga harus lebih kritis.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Eko Maryadi mengatakan, media massa dan jurnalis Indonesia menghadapi tantangan besar ke depan terkait kepercayaan publik terhadap media, terutama menghadapi tahun politik 2014 saat terjadinya pemilihan umum.

“Tantangan jurnalis ke depan itu lebih kepada bagaimana dia bersikap independen terhadap pemilik media. Di tahun politik sudah terlihat jelas terjadi perkubuan, kubu-kubu politisi yang memiliki media akan mempromosikan dirinya. Sehingga masyarakat itu akan dibingungkan oleh pencitraan yang dilakukan oleh media,” ujar Eko di sela-sela penyelenggaraan Festival Media selama akhir pekan.

“Jurnalis itu harus bisa memberikan panduan yang lebih benar, yang lebih jujur kepada publik. Di Festival Media ini sebenarnya kita mencoba membuka ruang komunikasi yang buntu antara media dan publik,” ujarnya, sambil menambahkan bahwa masyarakat sebagai konsumen media juga harus lebih kritis.

Ratusan jurnalis dari seluruh Indonesia dan masyarakat umum yang tertarik dengan dunia jurnalistik terlibat dalam acara Festival Media 2013 yang diselenggarakan AJI. Berlokasi di gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosumantri, Boulevard UGM, Yogyakarta, festival ini diisi dengan diskusi seputar jurnalistik, berbagai lomba, pemutaran film dokumenter, dan pelatihan singkat menulis dan membuat blog bagi masyarakat umum.

Acara digelar selama dua hari, 28-29 September 2013, dan diikuti berbagai media massa lokal, nasional, termasuk VOA. Festival ini dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah dan Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, yang meminta para jurnalis menjaga kepercayaan masyarakat.

“Antara iklan popularitas dan kondisi sebenarnya kan belum tentu sama, karena dipoles. Kita melihat calon pemimpin hanya dari bungkusnya-nya, tidak yang sebenarnya. Masyarakat harus dicerdaskan oleh media. Dari komentar publik kan kelihatan bahwa masyarakat itu belum fokus melihat media sebagai sumber informasi, dan juga tempat mendidik publik,” ujarnya.

Syukron Arif Muttaqin, manajer bisnis surat kabar Radar Jogja, mengatakan salah satu tantangan pengelolaan media ke depan adalah pembiayaan. Media massa dituntut tetap idealis di satu sisi, ujarnya, tetapi di sisi lain juga harus mampu mengatasi persoalan keuangan secara mandiri, tanpa campur tangan pemilik modal.

“Semua berjalan proporsional dan profesional. Artinya, dalam menyajikan berita kita dituntut untuk profesional dan menjunjung etika jurnalistik yang menjadi roh. Yang kedua, proporsional. Dalam menyajikan itu media juga harus menyajikan hal-hal yang merupakan pendukung dalam menjaga kelangsungan hidup media, yang itu diwujudkan dengan mengakomodasi kepentingan pemilik media dalam ukuran yang profesional tadi,” ujarnya.

Festival Media ini juga menjadi wahana bagi jurnalis Indonesia untuk belajar lebih banyak dan berinteraksi dengan rekan-rekan setanah air. Masyarakat umum juga berkesempatan untuk melakukan interaksi langsung dengan kalangan media, yang diharapkan menjadi forum efektif untuk meningkatkan rasa saling percaya antara media dan masyarakat.
XS
SM
MD
LG